TEKNIK - TEKNIK PEMBELAJARAN

 

1.    Inquiri
“Model pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan” (Sanjaya, 2006:194).
Menurut piaget (mulyasa, 2008:108) bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain. 
Dengan melihat kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inquiry adalah model  pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Pembelajaran inquiry banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, menurut aliran ini belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal.
Teori belajar lain yang mendasari pembelajaran inquiry adalah teori belajar konstruktivistik. Menurut Piaget (Sanjaya,2006:194) pengetahuan itu dapat bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema itu secara terus menerus diperbarui dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi. Di sisi lain (Kunandar, 2007:309) pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan demikian tugas guru adalah merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya, dan juga mendorong siswa untuk mengembangkan skema yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi. 
·         Karakteristik atau ciri-ciri model pembelajaran inquiry
Menurut Muslich (2008), ada beberapa hal yang menjadi karakteristik  atau ciri-ciri utama pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran inquiry menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk    mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
3) Membuka intelegensi siswa dan mengembangkan daya kreativitas siswa.
4) Memberikan kebebasan pada siswa untuk berinisiatif dan bertindak.
5) Mendorong siswa untuk berfikir intensif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
6) Proses interaksi belajar mengajar mengarahkan pada perubahan dari teacher centered kepada student centered.
·         Teknik model pembelajaran inquiry
Adapun teknik model pembelajaran inquiry dapat dikemukakan atau dapat dilihat sebagai berikut:
1)  Dapat membantu dan mengembangkan konsep pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide  lebih baik.
2) Membantu dan menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
3) Membantu siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.
4)  Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
5)  Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
6)   Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu. 
7)   Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
        2. Konstruktivisme
Dalam pembelajaran konstruktivism, pengetahuan siswa dibentuk oleh siswa itu
sendiri dan dibentuk melalui interaksi antarsiswa juga dengan gurunya. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam konstruktivism, salahsatu penyelenggaraan
pembelajarannya harus melibatkan kelompok. Dalam kelompok, siswa banyak
belajar bagaimana dia harus mengemukakan pendapatnya, bagaimana dia harus
mempertahankan pendapatnya secara logis, belajar bagaimana dia menerima
kesalahan pribadi setelah dikoreksi temannya sendiri. Dalam belajar kelompok,
seorang siswa akan melihat sebuah persoalan yang diberikan gurunya dalam tugas
”problem solving” atau penyelesaian suatu masalah, sehingga menciptakan suatu
refleksi yang menuntut kesadaran apa yang akan dan harus dipikirkan dan dilakukan
terhadap teman kelompoknya. Penyelesaian masalah melibatkan proses yang
memaparkan masalah dan pencarian penyelesaiannya. Metakognisi merupakan
proses tingkat tinggi dalam membuat refleksi ke atas pemikiran sendiri dan proses
penyelesaian masalah.
Jika dalam kelompok seorang siswa mampu menjelaskan, artinya dia sendiri
terbantu melihat sesuatu lebih jelas dan dapat melihat kekurangan dirinya. Jika
temannya bahkan ada yang belum faham, hal ini membuat dia merasapunya harga
diri dalam kelompoknya. Dari dialog antar pribadi, antarsiswa dalam kelompok kecil
akan terbentuk pengetahuan dan pemahaman yang lebih bermakna dibanding
dengan langsung mendengar dari gurunya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang
lebih ilmiah dan bermakna, sebaiknya guru mendatangkan para narasumberyang
dapat langsung berdialog dengan para siswa.
Selain melalui kelompok, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara
lainnya misalnya melalui gambar-gambar atau visual, paparan grafik, animasi, audio,
video, suara latar, musik dan lagu iringan yang menarik mewujudkan kesenangan
dan motovasi tersendiri bagi para siswa. Penggunaan multimedia misalnya CDROM,
OHP, komputer, VCD atau lainnya dengan paparan teks yang ringkas dan bemakna,
ilustrasi, film, gambar atau grafik yang berwarna-warni dapat mendorong siswa
untuk terus membuat penjelajahan terhadap berbagai ruang di dalam proses
pembelajarannya sehingga akan menimbulkan minat dan motivasinya.. Suasana
pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan, dapat meningkatkan rasa ingin
tahu mereka, sehingga pemahaman terhadap berbagai objek dapat dipupuk dan
terus ditingkatkan.
  Mengenai penilaian, guru dapat melakukan penilaian apa adanya ( Authentic
Assessment) yaitu penilaian lebih berbentuk kualitatif dibandingkan dengan jenis
penilaian kuantitatif. Dalam perlaksanaan pembelajaran, para siswa dinilai melalui
keterampilannya pada saat berdiskusi jika bentuk metodanya berdiskusi, atau
penilaian unjuk kerja jika metodanya eksperimen. Untuk hasil laporan pribadinya,
guru dapat menilai hasil karya siswa atau dalam bentuk portofolio jika guru punya
program menilai hasil tulisan siswa secara berkala dalam satu semester,misalnya.
Sebagai contoh ilustrasi, penulis sertakan (lampirkan) persiapan guru mengajar yang
berprinsip konstruktivism sebagai berikut.
Berikut dikemukakan salahsatu skenario pembelajaran dengan materi pokok : Senyawa Hidrokarbon, dengan bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut.
  Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : X/2
Standar Kompetensi: Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus
fungsi dan senyawa makromolekul
Kompetensi dasar: Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk
senyawa Hidrokarbon
Indikator : Mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
Tujuan pembelajaran:
1. Siswa dapat mengemukakan pendapatnya dalam diskusi senyawa karbon.
2. Siswa dapat merancang suatu percobaan untuk mengidentifikasi unsur C, H, dan
O dalam senyawa karbon
3. Siswa dapat menjelaskan prosedur dan melakukan suatu percobaan untuk
mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
4. Siswa dapat berhipotesa, melahirkan beberapa pertanyaan, menganalisis dan
menyimpulkan hasil pengamatannya
5. Siswa dapat bekerjasama, berempati dengan teman kelompoknya baik dalam
berdiskusi maupun dalam melakukan percobaan.
6. Siswa dapat menulikan rumus struktur beberapa senyawa hidrokarbon
7. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat penting dari senyawa hidrokarbon
Metode Pembelajaran : diskusi kelompok, experimen.

Langkah-langkah Kegiatan:
A. Orientasi dan menggali pendapat siswa tentang senyawa hidrokarbon
Dalam kegiatan ini, secara klasikal para siswa ditanya tentang fenomena alam
yang melibatkan senyawa karbon. Ide dari para siswa lebih dieksplisitkan,
lebih diperjelas n diperiksa, kemudian diarahkan ke suatu eksperimen yang
akan dilakukan secara berkelompok

B. Persiapan pembentukan konsep dalam diri siswa
Setelah dikelompokkan, guru memberikan beberapa pertanyaan dalam
bentuk lembar kerja yang harus didiskusikan oleh siswa, sebagai teori awal
dalam melakukan eksperimen.

C. Melakukan percobaan
Masing-masing kelompok mendiskusikan rancangan percobaannya,
kemudian melakukan percobaan, setelah erdiskusi mengenai hipotesisnya.
Dilanjutkan dengan diskusi hasil percobaan dan penyimpulan. Pembuatan
laporan dilakukan secara perorangan. Selama melakukan percobaan, guru
berkeliling untuk memotivasi, mengarahkan yang masih salah, memberi
pertanyaan atau menjawab pertanyaan dari siswa. Guru juga melakukan
penilaian unjuk kerja dan sikap siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang diharapkan

D. Siswa membentuk pemahaman berdasarkan diskusi dan percobaan
Siswa mengembangkan kemampuannyadan pemahamannya mengenai
senyawa hidrokarbon berdasarkan pengalaman, bacaan, diskusi, pengamatan
percobaan, analisis, dan pertanyaan pertanyaan dari guru dalam bentuk LKS
yang bermakna secara kelompok.

E. Review, regleksi, pengembangan konsep
Siswa melakukan diskusi kelas tentang hasil diskusi, hasil percobaan,hasil
analisis percobaan dan hasil jawaban LKSdengan bimbingan gurunya.
Mereka membandingkan dengan kelompok lainnya, sehingga mengetahui
kekurangannya. Guru mengarahkan konsep utama yang difahami siswa
mengenai senyawa hidrokarbon, tanpa mendiktekannya.

F. Aplikasi dan penerimaan teori
Siswa mendiskusikan berbagai penerapan konsep ke dalam kehidupannya
juga ke dalam situasi baru atau penerapan dalam menyelesaikan problema
yang adayang berhubungan dengan hidrokarbon
Alat/bahan/Sumber:
Tabung reaksi, statif dan klem, gabus, pipa kaca, pembakar spiritus, larutan Ca(OH)2
atau air kapur, kertas kobal, gula pasir, tepung terigu, tembaga (II) Oksida
Penilaian:
Unjuk kerja selama melakukan percobaan, sikap selama diskusi kelompok,
percobaan dan diskusi kelas, hasil laporan masing-masing siswa, dan tes tertulis
 

3.      SETS
   Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan saling temas yang merupakan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Asyari (dalam Tristanti, 2011:12) mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat.
  Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

  Program pembelajaran dengan pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah-masalah setempat.
2. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan  masalah.
3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.
4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah.
5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
6. Isi dari pembelajaran bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas
7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.
8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
10. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
 Secara operasional National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut.
a. Tahap invitasi 
  Pada tahap ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.
b. Tahap eksplorasi
  Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
  Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.
c. Tahap solusi
  Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009). 
  Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.
d. Tahap aplikasi                                                 
  Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
e. Tahap pemantapan konsep
 Guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa. 

4.      Pemecahan masalah
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Sebagai prinsip dasar dalam metode ini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.
Untuk memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan sebagai berikut:
1. Mengemukakan persoalan/masakah. Guru menghadapkan masalah yang akan dipecahkan kepada peserta didik.
2.  Memperjelas persoalan/masalah. Masalah tersebut dirumuskan oleh guru bersama peserta didiknya.
3.  Melihat kemungkinan jawaban peserra didik bersama guru mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam memecahkan persoalan.
4.  Mencobakan kemungkinan yang dianggap menguntungkan. Guru menetapkan cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
5. Penilaian cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat mendatangkan hasil yang diharapkan atau tidak.

Langkah-langkah Pelaksanaan  Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1.     Persiapan
a.  Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
b. Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.
c. Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.
d. Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
e.  Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik

2.     Pelaksanaan
a.    Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.
b.   Guru meminta kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.
c.    Peserta didik dapat bekerja secara individual atau berkelompok.
d.   Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin pula tidak.
e.  Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian didiskusikan mengapa pemecahannya tak ditemui.
f.    Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
g.  Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
h.    Membuat kesimpulan.
 



            5.   Diskusi
 Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut.
 Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah, yang dimana di dalam teknik ini terjadi proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar.

 Tehnik diskusi merupakan suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.

Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi :
(1). The Social Problem Meeting, merupakan tehnik pembelajaran dengan tujuan    berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan;
(2). The Open ended Meeting, berbincang bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana kita berada;
(3). The Educational Diagnosis Meeting, berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman agar lebih baik.

Tujuan tehnik ini adalah :
1)   Memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berfikir kritis, mengeluarkan pendapatnya, serta menyumbangkan pikiran-pikirannya.
2)   Mengambil suatu jawaban aktual atau satu rangkaian jawaban yang didasarkan atas pertimbangan yang seksama              


            Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
1.    Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.
2.    Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan.
3.    Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.
4.    Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.
5.    Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
6.    Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
7.    Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.
8.    Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
            9.    Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. 
           10.  Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencar pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang
           


6.    Tanya jawab

     Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetpi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
     Metode ini dapat diklasifikasikan sebagai metode tradisional atau konvensional. Dalam metode tanya jawab, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa menjawabnya, atau sebaliknya siswa bertanya guru menjelaskan. Dalam proses tanya jawab, terjadilah interaksi dua arah. Guru yang demokratis tidak akan menjawabnya sendiri, tetapi akan melemparkan pertanyaan dari siswa kepada siswa atau kelompok lainnya tanpa merasa khawatir dinilai tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dengan  metode tanya jawab tidak hanya terjadi interaksi dua arah tetapi juga banyak arah. Ketika anak menanyakan tentang bilangan prima, sebagai misal, guru yang demokratis tidak akan menjelaskan sampai tuntas tentang apa itu definisi bilangan prima, dan kemudian memberikan contoh bilangan prima. Dari pertanyaan ini akan muncul beberap orang ayang akan berinteraksi di dalam pertanyaan tersebut.  Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa.

     Mendesain proses pengajaran yang memuaskan siswa merupakan salah satu aspek lingkungan serta pengawasan turut menekankan rasa aman-nyaman sebuah proses pembelajaran di kelas. Selain itu guru menciptakan motivasi dan menyiapkan siswa untuk meraih sukses melalui tanya jawab dan diskusi serentak mengasah keterampilan berpikir siswa. Hal ini telah dinyatakan Djamarah dan Zain (1996:107) bahwa metode bertanya merupakan teknik penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa dan dapat pula dari siswa kepada guru. Bersamaan pikiran tersebut, Alipandie (1985:97) mengatakan metode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab. Definisi yang sama juga datang dari Djajojodisastro (1984:97) bahwa metode Tanya jawab merupakan suatu cara menyampaikan bahan pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh murid pada saat itu juga. Hakekat metode tanya ini dilakukan secara lisan. Bertolak dari definisi-definisi diatas dapat dinyatakan bahwa metode tanya jawab merupakan metode dimana guru mengajukan pertanyaan secara lisan kepada siswa untuk dijawab. Sebaliknya demikian pertanyaan menciptakan sugesti untuk menggiatkan pola berpkir siswa. Jika ada ketidak-jelasan sesuatu memotivasi seseorang berupaya memaknainya.

Hal-Hal yang perlu Diperhatikan dalam teknik Tanya Jawab
Adapun hal-hal yang perlu di perhatikan dalam menerapkan tekik ini adalah :
1.      Guru harus benar-benar menguasai bahan pelajaran, termasuk semua jawaban yang mungkin akan di dengarkannya dari murid atas suatu pertanyaan yang di ajukannya.
2.      Guru harus sudah mempersiapkan semua pertanyaan yang di ajukan olehnya kepada murid dengan cepat.
3.      Pertanyaan-pertanyaan harus jelas dan singkat ini harus di perhatikan, sebab pertanyaan-pertanyaan harus di ajukan secara lisan.
4.      Susunlah pertanyaan dalam bahasa yang mudah di pahami murid.
5.      Guru harus mengarahkan pertanyaan pada seluruh kelas.
6.      Berikan waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban pertanyaan, sehingga murid dapat merumuskannya dengan sistematis.
7.      Tanya jawab harus di lakukan dengan suasana yang tenang dan bukan dalam suasana yang tegang yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat di antara anak didik.
8.      Agar sebanyak-banyaknya murid memperoleh giliran menjawab pertanyaan dan jika seseorang tidak dapat menjawab segera, giliran di berikan kepada murid yang lain.
9.      Usahakan selalu agar setiap pertanyaan hanya berisi satu problem saja.
10.  Pertanyaan harus di bedakan dalam golongan pertanyaan pikiran dan pertanyaan reproduksi atau pertanyaan yang meminta pendapat dan hanya fakta-fakta.
11.  Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah direncanakan sebelumnya.
12.  Perencanaan pertanyaan dapat berdasarkan pada konsep yang ingin diperoleh atau dipahami siswa. Pertanyaan yang diajukan harus sesuai dengan kemampuan siswa  dan dengan kalimat yang lugas.
 
 
7.    Penugasan
     Metode pemberian tugas adalah cara dalam proses belajar mengajar dengan   jalan   memberi   tugas   kepada   siswa. Tugas-tugas   itu dapat  berupa mengikhtisarkan karangan, (dari   surat   kabar,  majalah   atau  buku   bacaan) membuat kliping, mengumpulkan gambar, perangko, dan dapat pula menyusun karangan. Metode   pemberian   tugas,   dianjurkan   antara   lain   untuk mendukung  metode   ceramah,   inkuiri,   VCT.   Penggunaan metode ini memerlukan pemberian tugas dengan baik, baik ruang   lingkup  maupun   bahannya.   Pelaksanaannya   dapat diberikan secara individual maupun kelompok.
     Dalam  proses   pembelajaran, siswa   hendaknya   didorong untuk   melakukan   kegiatan   yang   dapat   menumbuhkan proses kegiatan kreatif. Oleh karena itu metode pemberian tugas   dapat   dipergunakan   untuk   mendukung   metode  pembelajaran yang lain.
            Penggunaan metode pemberian tugas bertujuan:
              1.        menumbuhkan proses pembelajaran yang eksploratif
              2.        mendorong perilaku kreatif
              3.        membiasakan berpikir komprehensif
              4.        memupuk kemandirian dalam proses pembelajaran

            Metode pemberian tugas yang digunakan secara tepat dan terencana dapat bermanfaat untuk:
  1.        menumbuhkan kebiasaan belajar secara mandiri dalam lingkungan bersama (kolektif) maupun sendiri
  2.       melatih   cara  mencari   informasi secara  langsung  dari sumber  belajar   yang   terdapat  
         lingkungan  sekolah,     rumah dan masyarakat
  3.        menumbuhkan   suasana   pembelajaran   yang  menggairahkan (rekreatif)

            Guru perlu memperhatikan saran-saran pelaksanaan, sebagai berikut:
·            Merencanakan pemberian tugas secara matang.
·            Tugas yang diberikan hendaknya didasarkan pada minat dan kemampuan  siswa.
·            Tugas yang diberikan berkaitan dengan materi pelajaran yang telah diberikan.
·       Jenis tugas yang diberikan hendaknya telah dimengerti betul oleh  siswa agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik.
·         Jika tugas yang diberikan bersifat tugas kelompok, maka pembagian  tugas (materi tugas) harus diarahkan, termasuk batas waktu penyelesaiannya.
·            Guru dapat membantu menyediakan alat dan sarana yang diperlukan  dalam pemberian tugas.
·            Tugas yang diberikan dapat merangsang perhatian siswa dan realistis.
·            Hasil tugas siswa dinilai oleh guru.
 
 
                8. Karya Ilmiah

Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol.
Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.
Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.
Metode ilmiah didasarkan pada data empiris
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.
Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Langkah-Langkah Metode Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
           1.    Merumuskan masalah.
           2.    Merumuskan hipotesis.
           3.    Mengumpulkan data.
           4.    Menguji hipotesis.
           5.    Merumuskan kesimpulan.

           
9.    Demonstrasi
     Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).

     Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22).

     Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.

     Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.

Langkah Langkah Melaksanakan Metode Demonstrasi:

(1) Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
(a) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
(b) Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
(c) Lakukan uji coba demonstrasi.

(2) Tahap pelaksanaan
(a) Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:
1. Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
2. Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
3. Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa.

(b) Langkah pelaksanaan demonstrasi
1. Mulailah demonstrasi dengan kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir.
2. Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
3. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
4. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi.

(c) Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas- tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran.
        

          

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. http://dennisoctavianus.blogspot.co.id/

    BalasHapus
  3. Casinos Near Harrah's Resort Atlantic City - MapyRO
    Find Casinos Near Harrah's Resort Atlantic City in 순천 출장마사지 Atlantic City, NJ in septcasino real-time 광주 출장안마 and see 안성 출장안마 activity. Real-time reviews, news and 서산 출장샵 directions for

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kriteria Penilaian Pengembangan Media Pembelajaran

LKS SIFAT-SIFAT KOLOID