TEKNIK - TEKNIK PEMBELAJARAN
1.
Inquiri
“Model
pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan” (Sanjaya,
2006:194).
Menurut piaget (mulyasa, 2008:108)
bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas
agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang
ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.
Dengan
melihat kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inquiry
adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk
melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk
mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Pembelajaran
inquiry banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, menurut aliran
ini belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan
memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal.
Teori
belajar lain yang mendasari pembelajaran inquiry adalah teori belajar konstruktivistik.
Menurut Piaget (Sanjaya,2006:194) pengetahuan itu dapat bermakna manakala
dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Setiap individu berusaha dan mampu
mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur
kognitifnya. Skema itu secara terus menerus diperbarui dan diubah melalui
proses asimilasi dan akomodasi. Di sisi lain (Kunandar, 2007:309) pengetahuan
dan kemampuan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan demikian tugas guru
adalah merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi
yang diajarkannya, dan juga mendorong siswa untuk mengembangkan skema yang
terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi.
·
Karakteristik atau ciri-ciri model pembelajaran inquiry
Menurut Muslich (2008), ada beberapa
hal yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri utama pembelajaran inquiry
adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran inquiry
menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan,
artinya pembelajaran inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu
yang dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief).
3) Membuka intelegensi siswa dan
mengembangkan daya kreativitas siswa.
4) Memberikan kebebasan pada siswa
untuk berinisiatif dan bertindak.
5) Mendorong siswa untuk berfikir
intensif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
6) Proses interaksi belajar mengajar
mengarahkan pada perubahan dari teacher centered kepada student
centered.
·
Teknik model pembelajaran inquiry
Adapun teknik model pembelajaran inquiry
dapat dikemukakan atau dapat dilihat sebagai berikut:
1)
Dapat membantu dan mengembangkan konsep pada diri siswa, sehingga siswa
dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2) Membantu
dan menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
3) Membantu
siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif,
jujur dan terbuka.
4) Memberi kepuasan yang
bersifat intrinsik.
5) Situasi proses belajar
menjadi lebih merangsang.
6) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
7) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
2. Konstruktivisme
Dalam
pembelajaran konstruktivism, pengetahuan siswa dibentuk oleh siswa itu
sendiri dan
dibentuk melalui interaksi antarsiswa juga dengan gurunya. Hal ini
menunjukkan
bahwa dalam konstruktivism, salahsatu penyelenggaraan
pembelajarannya
harus melibatkan kelompok. Dalam kelompok, siswa banyak
belajar
bagaimana dia harus mengemukakan pendapatnya, bagaimana dia harus
mempertahankan
pendapatnya secara logis, belajar bagaimana dia menerima
kesalahan
pribadi setelah dikoreksi temannya sendiri. Dalam belajar kelompok,
seorang
siswa akan melihat sebuah persoalan yang diberikan gurunya dalam tugas
”problem
solving” atau penyelesaian suatu masalah, sehingga menciptakan suatu
refleksi
yang menuntut kesadaran apa yang akan dan harus dipikirkan dan dilakukan
terhadap
teman kelompoknya. Penyelesaian masalah melibatkan proses yang
memaparkan
masalah dan pencarian penyelesaiannya. Metakognisi merupakan
proses
tingkat tinggi dalam membuat refleksi ke atas pemikiran sendiri dan proses
penyelesaian
masalah.
Jika dalam
kelompok seorang siswa mampu menjelaskan, artinya dia sendiri
terbantu
melihat sesuatu lebih jelas dan dapat melihat kekurangan dirinya. Jika
temannya
bahkan ada yang belum faham, hal ini membuat dia merasapunya harga
diri dalam
kelompoknya. Dari dialog antar pribadi, antarsiswa dalam kelompok kecil
akan
terbentuk pengetahuan dan pemahaman yang lebih bermakna dibanding
dengan
langsung mendengar dari gurunya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang
lebih ilmiah
dan bermakna, sebaiknya guru mendatangkan para narasumberyang
dapat
langsung berdialog dengan para siswa.
Selain
melalui kelompok, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara
lainnya
misalnya melalui gambar-gambar atau visual, paparan grafik, animasi, audio,
video, suara
latar, musik dan lagu iringan yang menarik mewujudkan kesenangan
dan motovasi
tersendiri bagi para siswa. Penggunaan multimedia misalnya CDROM,
OHP,
komputer, VCD atau lainnya dengan paparan teks yang ringkas dan bemakna,
ilustrasi,
film, gambar atau grafik yang berwarna-warni dapat mendorong siswa
untuk terus
membuat penjelajahan terhadap berbagai ruang di dalam proses
pembelajarannya
sehingga akan menimbulkan minat dan motivasinya.. Suasana
pembelajaran
yang menyenangkan, menggairahkan, dapat meningkatkan rasa ingin
tahu mereka,
sehingga pemahaman terhadap berbagai objek dapat dipupuk dan
terus
ditingkatkan.
Mengenai penilaian, guru dapat melakukan
penilaian apa adanya ( Authentic
Assessment) yaitu penilaian lebih berbentuk kualitatif dibandingkan dengan jenis
penilaian kuantitatif. Dalam perlaksanaan pembelajaran, para siswa dinilai melalui
keterampilannya pada saat berdiskusi jika bentuk metodanya berdiskusi, atau
penilaian unjuk kerja jika metodanya eksperimen. Untuk hasil laporan pribadinya,
guru dapat menilai hasil karya siswa atau dalam bentuk portofolio jika guru punya
program menilai hasil tulisan siswa secara berkala dalam satu semester,misalnya.
Sebagai contoh ilustrasi, penulis sertakan (lampirkan) persiapan guru mengajar yang
berprinsip konstruktivism sebagai berikut.
Berikut dikemukakan salahsatu skenario pembelajaran dengan materi pokok : Senyawa Hidrokarbon, dengan bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut.
Assessment) yaitu penilaian lebih berbentuk kualitatif dibandingkan dengan jenis
penilaian kuantitatif. Dalam perlaksanaan pembelajaran, para siswa dinilai melalui
keterampilannya pada saat berdiskusi jika bentuk metodanya berdiskusi, atau
penilaian unjuk kerja jika metodanya eksperimen. Untuk hasil laporan pribadinya,
guru dapat menilai hasil karya siswa atau dalam bentuk portofolio jika guru punya
program menilai hasil tulisan siswa secara berkala dalam satu semester,misalnya.
Sebagai contoh ilustrasi, penulis sertakan (lampirkan) persiapan guru mengajar yang
berprinsip konstruktivism sebagai berikut.
Berikut dikemukakan salahsatu skenario pembelajaran dengan materi pokok : Senyawa Hidrokarbon, dengan bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai berikut.
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : X/2
Standar Kompetensi: Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus
fungsi dan senyawa makromolekul
Kompetensi dasar: Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk
senyawa Hidrokarbon
Indikator : Mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
Tujuan pembelajaran:
1. Siswa dapat mengemukakan pendapatnya dalam diskusi senyawa karbon.
2. Siswa dapat merancang suatu percobaan untuk mengidentifikasi unsur C, H, dan
O dalam senyawa karbon
3. Siswa dapat menjelaskan prosedur dan melakukan suatu percobaan untuk
mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
4. Siswa dapat berhipotesa, melahirkan beberapa pertanyaan, menganalisis dan
menyimpulkan hasil pengamatannya
5. Siswa dapat bekerjasama, berempati dengan teman kelompoknya baik dalam
berdiskusi maupun dalam melakukan percobaan.
6. Siswa dapat menulikan rumus struktur beberapa senyawa hidrokarbon
7. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat penting dari senyawa hidrokarbon
Metode Pembelajaran : diskusi kelompok, experimen.
Kelas/Semester : X/2
Standar Kompetensi: Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus
fungsi dan senyawa makromolekul
Kompetensi dasar: Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk
senyawa Hidrokarbon
Indikator : Mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
Tujuan pembelajaran:
1. Siswa dapat mengemukakan pendapatnya dalam diskusi senyawa karbon.
2. Siswa dapat merancang suatu percobaan untuk mengidentifikasi unsur C, H, dan
O dalam senyawa karbon
3. Siswa dapat menjelaskan prosedur dan melakukan suatu percobaan untuk
mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon
4. Siswa dapat berhipotesa, melahirkan beberapa pertanyaan, menganalisis dan
menyimpulkan hasil pengamatannya
5. Siswa dapat bekerjasama, berempati dengan teman kelompoknya baik dalam
berdiskusi maupun dalam melakukan percobaan.
6. Siswa dapat menulikan rumus struktur beberapa senyawa hidrokarbon
7. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat penting dari senyawa hidrokarbon
Metode Pembelajaran : diskusi kelompok, experimen.
Langkah-langkah Kegiatan:
A. Orientasi dan menggali pendapat siswa tentang senyawa hidrokarbon
Dalam kegiatan ini, secara klasikal para siswa ditanya tentang fenomena alam
yang melibatkan senyawa karbon. Ide dari para siswa lebih dieksplisitkan,
lebih diperjelas n diperiksa, kemudian diarahkan ke suatu eksperimen yang
akan dilakukan secara berkelompok
B. Persiapan pembentukan konsep dalam diri siswa
Setelah dikelompokkan, guru memberikan beberapa pertanyaan dalam
bentuk lembar kerja yang harus didiskusikan oleh siswa, sebagai teori awal
dalam melakukan eksperimen.
C. Melakukan percobaan
Masing-masing kelompok mendiskusikan rancangan percobaannya,
kemudian melakukan percobaan, setelah erdiskusi mengenai hipotesisnya.
Dilanjutkan dengan diskusi hasil percobaan dan penyimpulan. Pembuatan
laporan dilakukan secara perorangan. Selama melakukan percobaan, guru
berkeliling untuk memotivasi, mengarahkan yang masih salah, memberi
pertanyaan atau menjawab pertanyaan dari siswa. Guru juga melakukan
penilaian unjuk kerja dan sikap siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang diharapkan
D. Siswa membentuk pemahaman berdasarkan diskusi dan percobaan
Siswa mengembangkan kemampuannyadan pemahamannya mengenai
senyawa hidrokarbon berdasarkan pengalaman, bacaan, diskusi, pengamatan
percobaan, analisis, dan pertanyaan pertanyaan dari guru dalam bentuk LKS
yang bermakna secara kelompok.
E. Review, regleksi, pengembangan konsep
Siswa melakukan diskusi kelas tentang hasil diskusi, hasil percobaan,hasil
analisis percobaan dan hasil jawaban LKSdengan bimbingan gurunya.
Mereka membandingkan dengan kelompok lainnya, sehingga mengetahui
kekurangannya. Guru mengarahkan konsep utama yang difahami siswa
mengenai senyawa hidrokarbon, tanpa mendiktekannya.
F. Aplikasi dan penerimaan teori
Siswa mendiskusikan berbagai penerapan konsep ke dalam kehidupannya
juga ke dalam situasi baru atau penerapan dalam menyelesaikan problema
yang adayang berhubungan dengan hidrokarbon
Alat/bahan/Sumber:
Tabung reaksi, statif dan klem, gabus, pipa kaca, pembakar spiritus, larutan Ca(OH)2
atau air kapur, kertas kobal, gula pasir, tepung terigu, tembaga (II) Oksida
Penilaian:
Unjuk kerja selama melakukan percobaan, sikap selama diskusi kelompok,
percobaan dan diskusi kelas, hasil laporan masing-masing siswa, dan tes tertulis
3. SETS
Pendekatan SETS (Science, Environment,
Technology, and Society) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan saling
temas yang merupakan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Asyari
(dalam Tristanti, 2011:12) mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan
dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan
masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik
mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan
sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang
dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat.
Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan
Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains
teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan
siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi.
Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains
dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat
bagi masyarakat.
Program pembelajaran dengan
pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah-masalah
setempat.
2. Penggunaan sumber daya setempat
yang digunakan dalam memecahkan masalah.
3. Keikutsertaan yang aktif dari
siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.
4. Perpanjangan pembelajaran di luar
kelas dan sekolah.
5. Fokus kepada dampak sains dan
teknologi terhadap siswa.
6. Isi dari pembelajaran bukan hanya
konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas
7. Penekanan pada keterampilan
proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.
8. Penekanan pada kesadaran karir
yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
9. Kesempatan bagi siswa untuk
berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimana sains dan teknologi
berdampak di masa depan.
10. Kebebasan atau otonomi dalam
proses belajar.
Secara operasional National Science Teacher
Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai
berikut.
a. Tahap invitasi
Pada tahap ini guru
memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar
yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk
mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa, yang ada kaitannya
dengan materi yang akan dibahas.
b. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini, guru dan
siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi
dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian
menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh
melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya.
Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis
ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini.
Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk
menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman
dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass,
1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), tahap
kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui
berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses,
pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen
di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir
tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan
konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal
pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang
disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.
c. Tahap solusi
Pada tahap ini, siswa
mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya
dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para
ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis
mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk
solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada
rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan
tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007),
apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada
miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu
dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui
penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian
tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada
akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau
tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.
d. Tahap
aplikasi
Siswa diberi kesempatan untuk
menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi
nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
e. Tahap pemantapan konsep
Guru memberikan umpan balik/
penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.
4. Pemecahan masalah
4. Pemecahan masalah
Metode pemecahan
masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik
untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian
tujuan pengajaran.
Sebagai
prinsip dasar dalam metode ini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari
sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan
manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam
bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta
didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan
pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode
problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving
siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat
mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.
Untuk memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan
sebagai berikut:
1.
Mengemukakan persoalan/masakah. Guru menghadapkan masalah yang akan dipecahkan
kepada peserta didik.
2. Memperjelas
persoalan/masalah. Masalah tersebut dirumuskan oleh guru bersama peserta
didiknya.
3.
Melihat kemungkinan jawaban peserra didik bersama guru mencari
kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam memecahkan persoalan.
4.
Mencobakan kemungkinan yang dianggap menguntungkan. Guru menetapkan cara
pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
5. Penilaian
cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat mendatangkan hasil yang diharapkan
atau tidak.
Langkah-langkah
Pelaksanaan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1.
Persiapan
a.
Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
b. Guru
menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan
persoalan.
c. Guru
memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.
d. Problem
yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
e.
Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik
2.
Pelaksanaan
a.
Guru menjelaskan secara umum tentang
masalah yang dipecahkan.
b. Guru meminta kepada peserta didik untuk
mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.
c.
Peserta didik dapat bekerja secara
individual atau berkelompok.
d. Mungkin peserta didik dapat menemukan
pemecahannya dan mungkin pula tidak.
e. Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh
peserta didik kemudian didiskusikan mengapa pemecahannya tak ditemui.
f.
Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
g. Data diusahakan mengumpulkan
sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
h.
Membuat kesimpulan.
5.
Diskusi
Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok
tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar
yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa
berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi
berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu
pemahaman dari topik tersebut.
Teknik diskusi adalah salah
satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah, yang
dimana di dalam teknik ini terjadi proses interaksi antara dua atau lebih
individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan
masalah, dapat juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar.
Tehnik diskusi merupakan suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah
yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan
argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi :
(1). The Social Problem Meeting, merupakan
tehnik pembelajaran dengan tujuan
berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan;
(2). The Open ended Meeting, berbincang bincang
mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana
kita berada;
(3). The Educational Diagnosis Meeting,
berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman
agar lebih baik.
Tujuan tehnik ini adalah :
1) Memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berfikir kritis, mengeluarkan pendapatnya,
serta menyumbangkan pikiran-pikirannya.
2) Mengambil suatu jawaban aktual atau satu rangkaian jawaban yang didasarkan atas pertimbangan yang seksama
Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai
berikut:
1. Menelaah
topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan
topik kepada kelas.
2. Ikut
aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber
pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang
diajukan.
3. Mengemukakan
pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan
bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.
4. Mendengar
tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru
dikemukakan.
5. Mendengarkan
dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau
kelompok lain.
6. Menghormati
pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
7. Mencatat
sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju
maupun bertentangan.
8. Menyusun
kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
9. Ikut
menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
10. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan
dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah
dianalisa dari segala sudut pandang
6. Tanya jawab
Tanya jawab
adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab,
terutama dari guru kepada siswa, tetpi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses
pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
Metode ini
dapat diklasifikasikan sebagai metode tradisional atau konvensional. Dalam
metode tanya jawab, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa
menjawabnya, atau sebaliknya siswa bertanya guru menjelaskan. Dalam proses
tanya jawab, terjadilah interaksi dua arah. Guru yang demokratis tidak akan
menjawabnya sendiri, tetapi akan melemparkan pertanyaan dari siswa kepada siswa
atau kelompok lainnya tanpa merasa khawatir dinilai tidak dapat menjawab
pertanyaan itu. Dengan metode tanya jawab tidak hanya terjadi interaksi
dua arah tetapi juga banyak arah. Ketika anak menanyakan tentang bilangan
prima, sebagai misal, guru yang demokratis tidak akan menjelaskan sampai tuntas
tentang apa itu definisi bilangan prima, dan kemudian memberikan contoh
bilangan prima. Dari pertanyaan ini akan muncul beberap orang ayang akan
berinteraksi di dalam pertanyaan tersebut. Dalam penggunaan metode
mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara
seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan
dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa.
Mendesain proses pengajaran yang memuaskan
siswa merupakan salah satu aspek lingkungan serta pengawasan turut menekankan
rasa aman-nyaman sebuah proses pembelajaran di kelas. Selain itu guru
menciptakan motivasi dan menyiapkan siswa untuk meraih sukses melalui tanya
jawab dan diskusi serentak mengasah keterampilan berpikir siswa. Hal ini telah
dinyatakan Djamarah dan Zain (1996:107) bahwa metode bertanya merupakan teknik
penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari
guru kepada siswa dan dapat pula dari siswa kepada guru. Bersamaan pikiran
tersebut, Alipandie (1985:97) mengatakan metode tanya jawab adalah penyampaian
pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan siswa menjawab.
Definisi yang sama juga datang dari Djajojodisastro (1984:97) bahwa metode
Tanya jawab merupakan suatu cara menyampaikan bahan pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab oleh murid pada saat itu juga. Hakekat metode
tanya ini dilakukan secara lisan. Bertolak dari definisi-definisi diatas dapat
dinyatakan bahwa metode tanya jawab merupakan metode dimana guru mengajukan
pertanyaan secara lisan kepada siswa untuk dijawab. Sebaliknya demikian
pertanyaan menciptakan sugesti untuk menggiatkan pola berpkir siswa. Jika ada
ketidak-jelasan sesuatu memotivasi seseorang berupaya memaknainya.
Hal-Hal
yang perlu Diperhatikan dalam teknik Tanya Jawab
Adapun
hal-hal yang perlu di perhatikan dalam menerapkan tekik ini adalah :
1.
Guru harus benar-benar menguasai bahan pelajaran, termasuk semua jawaban yang
mungkin akan di dengarkannya dari murid atas suatu pertanyaan yang di
ajukannya.
2.
Guru harus sudah mempersiapkan semua pertanyaan yang di ajukan olehnya kepada
murid dengan cepat.
3.
Pertanyaan-pertanyaan harus jelas dan singkat ini harus di perhatikan, sebab
pertanyaan-pertanyaan harus di ajukan secara lisan.
4.
Susunlah pertanyaan dalam bahasa yang mudah di pahami murid.
5.
Guru harus mengarahkan pertanyaan pada seluruh kelas.
6.
Berikan waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban pertanyaan, sehingga murid
dapat merumuskannya dengan sistematis.
7.
Tanya jawab harus di lakukan dengan suasana yang tenang dan bukan dalam suasana
yang tegang yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat di antara anak didik.
8.
Agar sebanyak-banyaknya murid memperoleh giliran menjawab pertanyaan dan jika
seseorang tidak dapat menjawab segera, giliran di berikan kepada murid yang
lain.
9.
Usahakan selalu agar setiap pertanyaan hanya berisi satu problem saja.
10.
Pertanyaan harus di bedakan dalam golongan pertanyaan pikiran dan pertanyaan
reproduksi atau pertanyaan yang meminta pendapat dan hanya fakta-fakta.
11.
Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah direncanakan sebelumnya.
12.
Perencanaan pertanyaan dapat berdasarkan pada konsep yang ingin diperoleh atau
dipahami siswa. Pertanyaan yang diajukan harus sesuai dengan kemampuan
siswa dan dengan kalimat yang lugas.
7.
Penugasan
Metode
pemberian tugas adalah cara dalam proses belajar mengajar dengan
jalan memberi tugas kepada
siswa. Tugas-tugas itu dapat berupa mengikhtisarkan karangan,
(dari surat kabar, majalah atau
buku bacaan) membuat kliping, mengumpulkan gambar, perangko, dan
dapat pula menyusun karangan. Metode pemberian
tugas, dianjurkan antara lain
untuk mendukung metode ceramah,
inkuiri, VCT. Penggunaan metode ini memerlukan
pemberian tugas dengan baik, baik ruang lingkup
maupun bahannya. Pelaksanaannya dapat
diberikan secara individual maupun kelompok.
Dalam
proses pembelajaran, siswa hendaknya
didorong untuk melakukan kegiatan
yang dapat menumbuhkan proses kegiatan kreatif. Oleh
karena itu metode pemberian tugas dapat
dipergunakan untuk mendukung metode
pembelajaran yang lain.
Penggunaan metode pemberian tugas
bertujuan:
1.
menumbuhkan proses pembelajaran yang
eksploratif
2.
mendorong perilaku kreatif
3.
membiasakan berpikir komprehensif
4.
memupuk kemandirian dalam proses
pembelajaran
Metode pemberian
tugas yang digunakan secara tepat dan terencana dapat bermanfaat untuk:
1.
menumbuhkan kebiasaan belajar secara
mandiri dalam lingkungan bersama (kolektif) maupun sendiri
2.
melatih cara
mencari informasi secara langsung dari sumber
belajar yang terdapat
lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat
3.
menumbuhkan
suasana pembelajaran yang menggairahkan
(rekreatif)
Guru perlu memperhatikan saran-saran
pelaksanaan, sebagai berikut:
·
Merencanakan pemberian tugas secara
matang.
·
Tugas yang diberikan hendaknya
didasarkan pada minat dan kemampuan siswa.
·
Tugas yang diberikan berkaitan dengan
materi pelajaran yang telah diberikan.
·
Jenis tugas yang diberikan hendaknya
telah dimengerti betul oleh siswa agar tugas dapat dilaksanakan dengan
baik.
· Jika tugas yang diberikan bersifat tugas
kelompok, maka pembagian tugas (materi tugas) harus diarahkan, termasuk
batas waktu penyelesaiannya.
·
Guru dapat membantu menyediakan alat dan
sarana yang diperlukan dalam pemberian tugas.
·
Tugas yang diberikan dapat merangsang
perhatian siswa dan realistis.
·
Hasil tugas siswa dinilai oleh guru.
8. Karya Ilmiah
Metode
ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method
adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan
terkontrol.
Metode
ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode
ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau
pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari
sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan data atau fakta
khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah
nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama
harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari
pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.
Pada
Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam
metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap,
tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran
akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah,
proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara
sistematis dan berurutan.
Metode
ilmiah didasarkan pada data empiris
Setiap
metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa
masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia
datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak
tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode
ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka
itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.
Pada
metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di
saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara
terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu
dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin
membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang
berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan
tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Langkah-Langkah
Metode Ilmiah
Karena
metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat
langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap
langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun
langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan
masalah.
2. Merumuskan
hipotesis.
3. Mengumpulkan
data.
4. Menguji
hipotesis.
5. Merumuskan
kesimpulan.
9.
Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah pertunjukan
tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan
tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta
didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
Metode demonstrasi adalah metode mengajar
dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu
kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang
relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah,
2000:22).
Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah,
(2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk
memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan
bahan pelajaran.
Menurut Syaiful (2008:210) metode
demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang
merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat
rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan
kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat
mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Langkah Langkah Melaksanakan Metode Demonstrasi:
(1) Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
(a) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
(b) Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
(c) Lakukan uji coba demonstrasi.
(2) Tahap pelaksanaan
(a) Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:
1. Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
2. Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
3. Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa.
(b) Langkah pelaksanaan demonstrasi
1. Mulailah demonstrasi dengan kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir.
2. Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
3. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa.
4. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi.
(c) Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas- tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapushttp://dennisoctavianus.blogspot.co.id/
BalasHapusCasinos Near Harrah's Resort Atlantic City - MapyRO
BalasHapusFind Casinos Near Harrah's Resort Atlantic City in 순천 출장마사지 Atlantic City, NJ in septcasino real-time 광주 출장안마 and see 안성 출장안마 activity. Real-time reviews, news and 서산 출장샵 directions for